Harga Jengkol Tembus Rp 90.000 Per Kg, Pedagang Sulit Cari Pasokan

https://i2.wp.com/photo.kontan.co.id/photo/2013/06/10/1666451169p.jpg

JAKARTA, KOMPAS.com – Pedagang sayur mayur di berbagai pasar tradisional mengakui harga dan pasokan jengkol tengah alami kenaikan dan minimnya pasokan panganan yang memilik aroma khas tersebut.

Seperti yang diungkapkan Suhartini, salah satu pedagang sayur di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan. Menurut dia, dalam beberapa hari terakhir harga jengkol tengah alami kenaikan dan pasokan sulit dicari oleh pedagang.

Penyebabnya adalah kelangkaan pasokan jengkol dari petani kepada para pedagang di berbagai pasar tradisional.

“Wah lagi susah barangnya, harganya mahal juga Rp 90.000 per kilogram,” ujarnya kepada Kompas.com, di Jakarta, Selasa (30/5/2017).

Senada dengan Suhartini yakni Lastri pedagang sayur di Pasar Cimanggis, Tangerang Selatan, mengatakan harga jengkol tengah naik, yang disebabkan menurunnya pasokan kepada pedagang.

“Ini harganya Rp 70.000 per kilogram, ini saya baru dapat barangnya, memang susah kemarin-kemarin enggak jual sama sekali enggak ada pasokannya,” jelasnya.

Menurutnya, para pedagang biasanya membeli jengkol dari para petani yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat. Jika pasokan berkurang maka pedagang akan berebut membeli dan harga terkerek naik.

“Ini belinya dari Bogor, memang musiman jadi kadang banyak kadang susah, pembelinya biasanya warung makan, warteg,” paparnya.

Sumber

Advertisements

Perang Tarif Antar-Operator Telko, KPPU Minta Menkominfo Bertindak

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf menyarankan Menkominfo Rudiantara membuat regulasi terkait perang tarif murah yang dilakukan operator telekomunikasi.

Saat ini, KPPU tengah meneliti dugaan praktek jual rugi atau predatory pricing. Di mana konsumen akan mendapat tarif sangat murah untuk sesama operator dan tarif mahal untuk lintas operator.

“Yang kami ingin dorong ke depan, supaya regulator, dalam hal ini, Pak Menkominfo mengatur regulasi yang bersifat interkoneksi ini,” kata Syarkawi, kepada wartawan, di kantor KPPU, Jakarta Pusat, Selasa (30/5/2017).

Penerapan tarif murah tersebut mengakibatkan konsumen yang dipaksa memiliki dua jenis kartu dari operator yang berbeda-beda. Dia berharap, aturan yang dikeluarkan oleh Kemenkominfo nantinya dapat mengatur tarif interkoneksi. Dengan demikian, tarif komunikasi lintas operator tidak lagi mahal, pun untuk tarif sesama operator.

“Sampai sekarang, kami masih dalam tahap penelitian. Tetapi, kami monitor terus dugaan adanya praktik predatory pricing itu,” kata Syarkawi.

KPPU meneliti dugaan operator telekomunikasi sengaja menjual rugi untuk mengusir para pesaing usaha dari pasar atau merugikan pesaingnya.

Ombudsman Indonesia juga sempat menyatakan keprihatinannya dengan perang harga antaroperator telekomunikasi.

Lembaga ini menyoroti banting-bantingan harga untuk tarif telekomunikasi yang dimulai dengan program Rp 1 per detik untuk telepon antar-operator (offnet) oleh salah satu operator.

Perang harga layanan telekomunikasi ini tak hanya di biaya percakapan saja. Namun sudah merambah ke tarif data.

Alamsyah Saragih, Komisioner Ombudsman Republik Indonesia mengkritisi lambannya KPPU dalam merespon perang harga yang dilakukan operator selular yang saat ini tengah marak.

Menurut dia, pemberian tarif promo yang dilakukan operator telekomunikasi sudah mengarah ke predatory pricing.

“Pembiaran yang dilakukan oleh KPPU itu yang menurut Ombudsman penting. Sebab itu terjadi mal administrasi yang dilakukan oleh KPPU,” kata Alamsyah melalui rilis ke Kompas.com.

Sumber

Harga bawang kembali naik di Palu

 

Palu (ANTARA News) – Harga bawang merah di pasaran Kota Palu, Sulawesi Tengah, dalam beberapa hari ini kembali naik cukup signifikan. Di Pasar Masomba Palu, Minggu, harga bawang merah berkisar Rp40.000/kg, naik dari sebelumnya rata-rata Rp35.000/kg, sementara harga cabai masih bertahan pada kisaran Rp140.000/kg.

Menurut beberapa pedagang, naiknya harga bawang merah di pasaran dikarenakan harga di tingkat produsen naik, karena panen kurang. Bawang merah yang dijual pasar tradisional di Kota Palu berasal dari Kabupaten Sigi dan Dataran Napu, Kabupaten Poso. “Kalau produksi petani bagus, harga bawang dipastikan normal. Tapi jika produksi petani turun atau ada gangguan hama, harga bawang di pasaran dipastikan naik,” kata Ruslan,seorang pedagang di kawasan Pasar Masomba.

Kris, seorang petani bawang di Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, membenarkan hasil panen petani kurang mengembirakan. Kemungkinan besar karena curah hujan tinggi di Dataran Lore sehingga banyak tanaman bawang yang mati. Hal senada juga disampaikan Subhan, seorang petani di Desa Jonoge, Kabupaten Sigi. Ia mengatakan panen kali ini tidak sebagus sebelumnya. Hasil panen petani rata-rata menurun dibandingkan sebelumnya.

Continue reading